Erik Erikson adalah seorang psikolog yang merumuskan teori tahap-tahap perkembangan kepribadian manusia sesuai siklus hidupnya. Erikson memperhatikan pemikiran psikoanalisa dari Sigmund Freud dan pendekatan antropologi budaya yang dikembangkan oleh Margaret Mead dan Franz Boas. Menurut Erikson anak-anak dalam setiap sistem budaya akan belajar nilai yang berbeda, tujuan yang berbeda, serta beragam pengasuhan.
Pengaruh ini membentuk bagaimana jiwa anak berkembang. Manusia berkembang berdasarkan siklus hidup yaitu sejak lahir sampai meninggal, melalui delapan tahapan yang berbeda antara lain :
1) Trust vs Mistrust
2) Autonomy vs shame and doubt
3) Initiative vs guilt
4) Industry vs inferiority
5) Identity vs role confusion
6) Intimacy vs isolation
7) Generativity vs stagnation
8) Integrity vs Despair

Sebelum membahas tentang peran mahasiswa ekologi manusia dalam menyikapi permasalahan ekologi ada baiknya kita mengetahui dulu pengertian ekologi dan ekologi manusia. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1866 oleh Ernst Haeckel, seorang ahli ilmu biologi dari Jerman. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, oekos yang artinya rumah dan logi atau logos yang artinya ilmu. Sehingga secara harfiah ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya- baik yang bersifat biotik (hidup) maupun tak hidup (abiotik)- sehingga terbentuk suatu jaring-jaring sistem kehidupan pada berbagai tingkatan organisasi. Boleh dikatakan makna penting yang terkandung dalam ekologi adalah ”adaptasi terhadap lingkungan hidup”. Sejak periode Darwin, lingkungan hidup sudah dipandang sebagai suatu totalitas jaring-jaring kehidupan dimana seluruh tumbuhan dan hewan saling beriteraksi satu sama lain dalam suatu wilayah. Sehingga setiap makhluk hidup di wilayah tersebut pada hakekatnya harus beradaptasi dan menyesuiakan diri dengan lingkungan hidupnya. Termasuk dalam hal ini manusia. Perbedaannya dengan yang lain adalah manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan hidupnya tidak hanya bertindak sebagai makhluk biologis.
Krisis atau bencana ekologi yang kini banyak melanda planet bumi- pencemaran sungai, danau, erosi, kerusakan hutan dan keanekaragaman hayati, hingga penipisan ozon dan pemanasan bumi- pada dasarnya merupakan krisis ekologi manusia. Kebudayaan dan peradaban modern yang berkembang saat ini membawa manusia berada di ambang kehancuran. Peradaban modern telah menempatkan lingkungan hidup sebagai obyek untuk kemajuan manusia ketimbang sebagai subyek untuk keseimbangan dan harmoni kehidupan di bumi.
Sebagai mahasiswa ekologi manusia yang tentunya lebih mengerti dan memahami permasalahan ekologi kita harus memulainya dari diri sendiri dan dari hal-hal yang kecil tapi sebetulnya jika kita lakukan bersama dan terus-menerus akan menimbulkan dampak atau efek yang sangat besar seperti, tidak membuang sampah sembarangan baik di jalan, sungai, danau ataupun di saluran air, tidak menebang pohon sembarangan, melakukan tebang pilih, hemat energi, tidak membeli atau menjual hewan-hewan langka yang dilarang untuk diperjualbelikan, menggunakan kertas bolak-balik, tidak membuang sampah anorganik ke tanah, mengurang penggunaan plastik, melakukan 3R (reuse, reduce dan recycle) dan melakukan penghijauan di sekitar tempat tinggal masing-masing dan aktif dalam kegiatan yang bersifat peduli lingkungan.
Untuk ruang lingkup yang lebih besar kita sebagai mahasiswa ekologi manusia dapat melakukan sosialisasi dan seminar tentang permasalahan ekologi yang kita hadapi sekarang di kampung-kampung atau wilayah sekitar kampus. Kita juga menjelaskan bagaimana caranya untuk mencegah atau mengurangi permasalahan ekologi yang ada sekarang ini. Bukan hanya di wilayah sekitar kampus saja kita juga dapat melakukanya di tempat-tempat lain dan di perusahaan serta pabrik-pabrik untuk mengingatkan mereka bahwa limbah dan emisi gas yang mereka keluarkan telah menimbulkan permasalahan lingkungan. Selain seminar dan sosislisasi kita juga bisa mengembangkan suatu teknologi yang inofatif untuk mengurangi atau mencegah permasalahan ekologi dan bekerja sama dengan instansi-instansi terkait untuk membuat suatu teknologi tersebut.
Sebetulnya yang harus berperan dalam menaggulangi permasalahan ekologi saat ini bukan hanya mahasiswa fakultas ekologi manusia tapi juga dari pemerintah, peneliti, aktivis lingkungan, LSM dan masyarakat umum. Hal ini dipertegas pada Koferensi Lingkungan Hidup ( United Nations Conference on Human Environment ) di Stockholm, Swedia, pada tahun 1972. Fokus utama ekologi terletak pada hubungan kesalingterkaitan berbagai komponen kehidupan dalam jaring-jaring sistem kehidupan. Dewasa ini, berbagai bencana seperti kekeringan, kebakaran hutan, pencemaran, banjir bandang, tanah logsor dan badai telah menjadi musibah yang kita hadapi secara rutin, sehingga menjadi pemandangan yang sudah biasa kita lihat sehari-hari. Bencana-bencana lingkungan ini, bukanlah bencana yang saling terpisah, melainkan satu dan yang lainnya memiliki keterkaitan yang sangat erat.
Dampak terbesar dari sendi-sendi krisis ekologi adalah kerusakan ekologi pertanian yang memproduksi bahan pangan bagi keberlanjutan hidup umat manusia. Dalam sejarah peradaban manusia di bumi belum pernah krisis ekologi melanda sedemikian hebat seperti sekarang. Bahaya kekeringan hingga merusak tingkat kelembaban tanah akan berujung pada terjadinya kebakaran hutan. Di sektor pertanian, terganggunya produktifitas hasil panen telah dipicu oleh adanya perubahan pola iklim regional dan global. Perubahan iklim mengakibatkan perubahan intensitas curah hujan yang berdampa semakin panjangnya masa kekeringan. Akibat lebih lanjut adalah terganggunya pola tanam pada daerah pertanian. Sementara itu, gelombang pasang air laut sebagai imbas dari badai tropis di tengah samudra yang merambah ke pantai telah memperbesar ancaman bagi terjadinya abrasi pantai. Keadaan ini semakin buruk, manakala kebijakan pembangunan melalui reklamasi pantai tidak mempertimbangkan kesesuaian fungsi ekologis pantai. Dampak di bidang kesehatan, misalnya berupa meningkatnya wabah penyakit malaria sebagai akibat zona atau range suhu meningkat ke daerah yang lebih dingin, sehingga kehidupan nyamuk pembawa malaria dapat masuk ke daerah tersebut. Kawasan genangan air jumlahnya semakin meningkat, baik di musim hujan maupun di musim kering. Itu semua adalah contoh nyata dari kerusakan lingkungan yang memiliki keterkaitan yang sangat erat.
Kasus-kasus pencemaran lingkungan diperkirakan masih menunjukkan kecenderungan yag terus meningkat. Masih tingginya pemakaian bahan bakar fosil akan menyebabkan peningkatan emisi gas-gas pencemar udara. Kemajuan transportasi dan industrialisasi yang tidak diiringi penerapan teknologi ramah lingkungan akan memberi dampak negatif yang sangat besar terutama pada lingkungan perkotaan. Sungai-sungai di perkotaan juga semakin kehilangan fungsi ekologisnya karena tercemar oleh berbagai limbah industri dan rumah tangga. Demikian juga dengan kondisi tanah yang semakin tercemar oleh berbagai bahan kimia, baik yang berasal dari sampah padat, limbah cair, maupun pemakaian pupk kimia di luar ketentuan. Gejala diatas menunjukan bahwa kesimbangan sistem ekologi telah melampaui batas.
Kita sebagai mahasiswa ekologi manusia yang menyadari lebih awal dan mengerti dampak negatif yang sangat besar yang dihasilkan oleh permasalahan ekologi harus lebih aktif untuk mensosialisasikan gerakan peduli lingkungan dan mengajarkan orang-orang terdekat kita untuk lebih memelihara lingkungan. Karena kita hanya punya satu tempat tinggal yaitu planet bumi, jika planet bumi rusak akibat ulah para manusia yang menghuninya akan menyebabkan berakhirnya kehidupan di bumi dan kepunahan manusia itu sendiri. Jangan hanya karena ulah segelintir orang yang merusak lingkungan dan tidak mempedulikan dampaknya dapat menyebabkan kehancuran bagi semua umat manusia. Kita juga harus bisa merubah cara pandang kita dan orang lain dari ”bumi untuk kita” menjadi ”kita untuk bumi”. Tapi kita juga janga hanya berteori, kita juga harus tanggap dan aktif.

Perkembangan Bahasa Anak

Setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melalui bahasa tangis tersebut seorang bayi mengkominukasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin meluas dan meningkat, misalnya dengan orang di sekitar lingkungannya dan berkembang dengan orang yang baru dikenal dan bersahabat dengannya.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan bicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan perkembangan tersebut, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan sebagainya. Orang tua sangat bertanggung jawab atas kesuksesan belajar anak dan harus selalu berusaha meningkatkan potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal. Bahasa adalah segala bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti pada orang lain. Oleh karena itu perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata.
Perkembangan bahasa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun), dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai anak mengucapkan kata-kata pertamanya. Yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tuanya. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar,